ILMU
JARH WA TA’DIL
NALA
KHOIRAN, MUZAYYANAH
PAI-B
SEMESTER 3
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,
Jurusan Pendidikan Agama Islam
ABSTRACT: The science Jarh and Ta’dil is science which
deals narrators of hadisth by emphasized piety and ugliness, thus the result
can be accepted or rejected their history. This science problems arise because
of the transmitters of hadith, such as counterfeiting hadith, addition or
subtraction of a tradition that the original tradition. Science Jarh and Ta’dil
has a very important position in the disciplines of hadith. It is based on the
fact that this science is one part that can not be sparated from the other
hadith sciences in determining the acceptance or rejection of a tradition. If a
transmitter of hadith otherwise flawed the result memoirs will be rejected, and
vice versa if a transmitter of hadith lauded with praise fair or good,
then the result will be accepted history, as long as the
requirements of other requirements to receive hadith fulfilled. This science was originally a two science are each running on ttrack alone and
mutually exclusive. But then both of these disciplines into one unified
collaboration. By looking at the relation both were so tightly thst give
confidence to researchers hadith regarding the quality of the transmitter of
hadith, both related to personal qualities as well as his intellectual
capacity, the merger of the two sciences thet it actually adds breadth of the
science of hadith criticism.
KEYWORD: Jarh,
ta’dil
PENDAHULUAN
Ilmu
al-jarh wa ta’dil merupakan buah manis dari jerih payah para ulama hadits yang telah maksimal
berupa menjaga dan membersihkan hadits-hadits Nabi saw dari tangan-tangan kotor
yang hendak merusak dan memalsukan hadits-hadits beliau. Al-jarh wa at-ta’dil
merupakan ilmu yang dapat digunakan sebagai timbangan dalam melihat kualitas
para perowi. Dengan ilmu ini dapat diketahuinantinya siapa diantara para perowi
yang dapat diterima riwayatnya dan siapa pula yang harus ditolak. Bahkan, ilmu
ini merupakan ilmu yang tidak dimiliki oleh umat-umat yang lain.
Proses
untuk mendeteksi kebenaran suatu berita yang disampaikan oleh seseorang oleh
seseorang melalui pelacakan dan kredibilitas penunturnya. Sifat, karakter, dan
kepribadian pembawa berita sangat dipertimbangkan bahkan dijadikan sebagai
landasan dalam menentukan layak tidaknya berita tersebut untuk diterima.
Proses
penyampaian berita semacam ini diistilahkan adalah ilmu hadits dengan riwayat.
Riwayat sangat terkait dengan sanad, dan sanad adalah tumpuan para ahli hadits
dalam menilai sebuah hadits.Dari sinilah sanad menjadi sangat vital untuk
menetukan status sebuah hadits.
Pengertian Jarh wa Ta’dil
Secara
etimologis, kata al-jarh merupakan
mashdar dari kata jaraha-yajrahu yang
berarti luka atau melukai dan dapat juga diartikan sebagai aib atau mengaibkan,
sedangkan ta’di berarti lurus, meluruskan; ta’dil
berarti pula tazkiyyah yaitu
membersihkan dan menganggap bersih.[1]
Sedangkan
menurut istilah Jarh berarti
tersifatinya seorang perowi denga sifat tercela, seperti kadzab, su’ al-hifzh, mukhtalath, ghair maa’mun, dan lain-lain,
sehingga tertolak riwayatnya.Ajaj al-Khatib dalam karyanya Ushul al Hadits, mendefinisikan Jarh sebagai sifat lahiriah seorang perowi yang
keadilannya cacaat, seperti lemah ingatan, sehingga riwayatnya jatuh atau
tertolak dengan tajrih ini.
Sedangkan ta’dil secara istilah berarti
tersifatinya seorang perowi yang mengarah pada diterimanya periwayatannya,
orang yang dinilai adil adalah orang yang tidak cacat urursan agama dan muru’ahnya, sehingga kabar dan
persaksiannya dapat diterima sepanjang syarat-syaratnya terpenuhi.Menurut
keterangan tersebut, yang dinamakan adil adalah orang yang tidak ada
ketercelaan pada dirinya, sehinggga tidak ditolak riwayatnya dan khabar yang
disampaikannya.Jadi, orang yang di ta’dil
atau yang dinilai adil adalah orang yang dirinya selamat dari segala celaan
yang tidak layak dimiliki oleh seorang perowi agar riwayatnya tidak ditolak.
Seorang yang dinilai adil dalam periwayatan hadits, harus seorang muslim,
mukallaf, dhabith, tsiqoh dan selamat dari kefasikan.[2]
Al-Jarh
wa al-Ta’dil pada awalnya merupakan dua ilmu yang masing-masing berjalan
sendiri-sendiri dan saling berdiri sendiri. Namun kemudian kedua ilmu tersebut
dikolaborasikan.Tidak diketahui secara pasti mengapa dalam perkembangan
selanjutnya kedua Ilmu tersebut bergabung. Tetapi, melihat bentuk relasi
keduanya yang begitu erat sehingga memberikan keyakinan kepada peneliti hadits
mengenai kualitas seorang perowi, baik menyangkut kualitas pribadi maupun kapasitas intelektualnya,
penggabungan kedua ilmu tersebut justru malah menambah keluasan tentang ilmu
kritik hadits.[3]
Ilmu jarh
wa ta’dil merupakan buah manis dari jerih payah para ulama’ hadits yang telah
maksimal berusaha menjaga dan membersihkan hadits-hadits Nabi saw dari tangan-tangan otor yang hendak merusak
dan memalsukan hadits-hadits beliau. Al-jarh waa at-ta’dil merupakan ilmu yang
dapat digunakan sebagai timbangan dalam melihat kualitas para perowi. Dengan
ilmu ini dapat diketahui nantinya siapa diantara para perowi yang dapat
diterima riwayatnya dan siapa pula yang
ditolak riwayatnya. Bahkan, ilmu ini merupakan ilmu yang tidak dimiliki oleh
umat-umat yang lain.
Proses
untuk mendeteksi kebenaran suatu berita yang disampaikan oleh seseorang melalui
pelacakan dan kredibilitas penuturnya. Sifat, karakter, dan kepribadian pembawa
hadits berita sangat dipertimbangkan bahkan dijadikan sebagai landasan dalam
menentukan layak tidaknya berita tersebut untuk diterima. Proses penyampaian
berita semacam ini diistilahkan dalam ilmu hadits dengan riwayat. Riwayat
sangat terkait dengan sanad, dan sanad adalah tumpuan para ahli hadits dalam
menilai sebuah hadits.Dari sinilah kemudian sanad menjadi sangat vital untuk
menentukan status sebuah hadits.[4]
Penetapan Syariat tentang Jarh dan Ta’dil
Bagi
sebagian orang, tidak memahami tujuan dan maksud dilakukannya jarh dan ta’dil oleh ulama’ ahli ktitik hadist dianggap sebagai sesuatu yang
tercela.Padahal bagi ahli kritik hadist, penelitian tentang keadaan
periwayat-periwayat hadist dengan membersihkan orang-orang yang yang ‘adil dan mencatat orang-orang yang
cacat merupakan sikap hati-hati dalam urusan agama untuk menjaga
undang-undangnya, membedakan letak kekeliruan yang terjadi poada sumber asal
yang menjadi bangunan islam dan asas syariah.Mereka tidak bermaksud mencela
manusia, mengumpat, dan memfitnah.Tetapi mereka sekedar meneranhgkan kelemahan
orang yang lemah untuk diketahui sehingga dapat dihindari periwayatann dan
pengambilan hadist darinya.Menerangkan keadaan periwayat-periwayat adalah jalan
yang tepat untuk memelihara hadist/Sunnah Rasulullah SAW.
Penyampaian
dan periwayatan hadist bukanlah suatu perkara yang kecil dibandingkan persaksian.Karena
itu, tidaklah dditerima suatu hadist kecuali diriwayatkan oleh orang-orang yang
terpercaya (tsiqoh).Karena kesaksian dalam urusan agama lebih utama dan lebih
berhak untuk dikukuhkan daripada kesaksian dalam urusa harta benda dan hak-hak
manusia.
Dalam hal
ta’dil, Rasulullah bersabda :…..na’am ‘abdullah
ibn khalid ibn al-walid sayfun min
suyufillahdan juga : inna ‘abdallah rajulun shalihun. Sedang mengenai Jarh,
beliau bersabda: bi’sa akhu al-asyirah. Karena itu, menurut Imam Nawawi, Jarh
dan Ta’dil itu sebagai upaya pemeliharaan syariat islam bukanlah ghibah ataupun umpatan. Akan tetapi, ia
merupakan nasehat karena Allah, Rasulullah, dan kaum muslimin. Dengan demikian,
Jarh dan Ta’dil hukumnya boleh, bahkan secara sepakat dihukumi sebagai
kewajiban.[5]
Tingkatan Jarh wa Ta’dil
Dalam
muqoddimah kitab al-jarh wa al-ta’dil, Ibnu Abu Hatim membagi Jarh dan
Ta’dil masing-masing menjadi 4 tingkatan, kemudian para ulama’ menambahkan
masing-masing 2 tingkatan.Jadi keseluruhannya masing-masing menjadi 6
tingkatan, berikut pembahasannya.
1.
Tingkatan
TA’dil dan Lafal-lafalnya
a.
Dengan
lafal yang menunjukkan arti lebih atau paling atau yang berbentuk Af’al
al-tafdhil. Tingkatan ini yang paling tinggi kualitasnya seperti :
فلان إليه منتهى فى التثبيت
“ si fulan adalah orang yang
paling top ketguhan hati dan hafalannya”.
فلان أثيت الناس
“ si fulan adalah orang yang mantap hafalan dan keadilannya “.
b.
Dengan
lafal yang menta’qidkan ketsiqohan perowi dengan membubuhi satu sifat atau
beberapa sifat yang menunjukkan keadilan dan kedhabitannya, baik sifat yang
dibubuhkan itu dengan mengulangnya atau semakna, seperti:
" ثقة ثقة " : dia betul-betul tsiqoh
" ثقة ثبت " : dia adalah orang yang tsiqoh lagi teguh
c.
Dengan
lafal yang menunjukkan arti tsiqoh tanpa ta’qid, seperti contoh:
" ثقة " : dia orang yang tsiqoh
" حجة " : dia orang yang petah lidahnya
d.
Dengan
lafal lain yang menunjukkan arti adil atau dhabith, seperti:
" صدق " : dia orang yang sangat jujur
" محل الصدق " : dia orang yang berstatus jujur
" لا بأس به " : dia orang yang tidak cacat menurut sebagian ulama’
e.
Dengan
lafal yang tidak menunjukkan tsiqoh dan jarh
" فلان شيخ " : si fulan adalah seorang guru
" روى عنه الناس " : orang yang meriwayatkan hadits darinya
f.
Dengan
lafal yang mendekati arti jarh, seperti
" فلان صالح الحديث
" : si fulan itu pantas meriwayatkan hadits
" بكتب حدبثه " : haditsnya bisa cacat[6]
Hukum tingkatan ta’dil iatas
tersebut adalah :
-
Perowi
yang dita’dil dengan 3 tingkatan yang pertama hadistnya dapat dipakai sebagi
hujjah, apabila masing-masing saling menguatkan.
-
Perowi
yang dita’dil dengan tingkatan yang keempat dan kelima haditsnya tidak dapat
dipakai sebagai hujjah, bisa dicatat dan di-ikhtibar ( dapat dipertimbangkan )
-
Perowi
yang dita’dil dengan tingkatan yang keenam hadistnya tidak dapat dipaki sebgi
hujjah, namun bisa dicatat untuk di-i’tibar ( sebagai pertimbangan ) tidak
untuk diiktibarkan, karena jelas tidak menunjukkan arti dhabith.
2.
Tingkatan
Jarh dan lafal-lafalnya
a.
Dengan
lafal yang menunjukkan arti lemah, ini adalah tingkata yng paling rendah adalah
Jarh, seperti :
" فلان لين الحديث
" : si
fulan adalah orang yang lunak hadistnya
" فيه مقال " : si fulan adalah orang yang diperbincangkan
(kualitasnya).
b.
Dengan
lafal yang menjelaskan bahwa hadistnya tidak dapt dipakai sebagai hujjah atau
sejenisnya, seperti :
" فلان لا يحتج به
" : si
fulan hadistnya tidak dapt dipakai hujjah
" ضعيف " : dia adalah perowi lemah
" له مناكر " : mulanya dia adalah perowi yang munkar
c.
Dengan
lafal yang menjelaskan bahwa hadistnya tidak ditulis atu sejenisnya, seperti :
" فلان لا يكتب حديثه
" : si
fulan hadistnya tidak ditulis
" لا تحل روايته " : tidak halal riwayat hadist darinya
" ضعيف جدا " : dia adalah orang yang sangat lemah
" واه بمرة " : dia adalh orang yang sering menduga
d.
Dengan
lafal yang mengandung arti dugaan dusta atau sejenisnya, seperti :
" فلان متهم بالكذب
" : si
fulan adalah orang yang diduga dusta
" متهم بالوضيع " : si fulan adalah orang yang diduga bohong
" يسرق الحديث " : dia adalah orang yang mencuri hadist
" ساقط " : dia adalah orng yang gugur
"متروك " : dia adalah orang yang ditingal hadistnya
" ليس بثقة " : dia adalah orang yang tidak tsiqoh
e.
Dengan
lafal yang menunjukkan sifat bohong atau sejenisnya, seperti :
" ذاب " : dia adalh pembohong
" دجال " : dia adalah penipu
" وضاع " : dia adlah pendusta
" يكذب " : dia dusta
" يضع " : dia bohong[7]
f.
Dengan
lafl yang menunjukkan arti sangat dusta atau lafl yang berbentuk af’al
al-tafdhil, seperti :
" فلان أكذب الناس
" : dia
adalah orang yang paling bohong
" المنتهى فى الكذب "s : dia adalah orang yang pling top kebohongannya
" هو ركن الكذب " :dia adalah orang yang termasuk bohong
Hukum tingkatan diatas tersebut adalah :
-
Perowi
yang di jarh dengan 2 tingkatan yang pertama, hadistnya tidak dapat dipakai
sebagai hujjah, namun hadistnya bisa dicatat sebgai i’tibar
-
Perowi
yang di jarh dengan 4 tingkatan terakhir, hadistnya tidak dapat dipaki sebagai
hujjah, tidak dapat dicatat dan tidak dapat diambl sebagai i’tibar.[8]
KESIMPULAN
Menurut istilah Jarh berarti tersifatinya seorang perowi
denga sifat tercela, seperti kadzab, su’
al-hifzh, mukhtalath, ghair maa’mun, dan lain-lain, sehingga tertolak
riwayatnya.Ajaj al-Khatib dalam karyanya Ushul
al Hadits, mendefinisikan Jarh
sebagai sifat lahiriah seorang perowi yang keadilannya cacaat, seperti
lemah ingatan, sehingga riwayatnya jatuh atau tertolak dengan tajrih ini.
Sedangkan ta’dil secara istilah berarti
tersifatinya seorang perowi yang mengarah pada diterimanya periwayatannya,
orang yang dinilai adil adalah orang yang tidak cacat urursan agama dan muru’ahnya, sehingga kabar dan
persaksiannya dapat diterima sepanjang syarat-syaratnya terpenuhi.Menurut
keterangan tersebut, yang dinamakan adil adalah orang yang tidak ada
ketercelaan pada dirinya, sehinggga tidak ditolak riwayatnya dan khabar yang
disampaikannya.
Ibnu
Abu Hatim membagi Jarh dan Ta’dil masing-masing menjadi 4 tingkatan, kemudian
para ulama’ menambahkan masing-masing 2 tingkatan. Jadi keseluruhannya
masing-masing menjadi 6 tingkatan,
DAFTAR
RUJUKAN
Dr.MahmudThahhan.2007.IntisariIlmuHadits.Malang:UIN-MalangPress
Dr.UmiSumbulahM.Ag.2008.KritikHadits.Malang:UIN-MalangPress
Drs.MasjfukZuhdi.1985.PengantarIlmuHadits.Surabaya:PTBinaIlmu
H.ZeidB.Smeer,Lc,M.A.2008.UlumulHadits.Malang:UIn-MalangPress
KH.Prof.Dr.M.Abdurrahman,M.AdanElanSumarna,M.Ag.2011.MetodeKritikHadits.Bandung:PTRemajaRosdakarya
Dr.M.AlfatihSuryadilaga,dkk.2010.UlumulHadits.Yogyakarta:PenerbitTERAS
Makalah ini perlu banyak
diperbaiki. Saya kira makalah terakhir dalam ditulis dengan baik, tapi ternyata
masih jauh dari harapan. Beberapa perbaikan yang dapat dilakukan:
1.
Jumlah halaman yang masih sangat minimalis. Perlu
diperbanyak lagi. Lihat materi pembahasan yang sudah saya cantumkan dalam SAP
atau bisa berkreasi sendiri.
2.
Penulisan footnote masih salah.
3.
Penulisan gelar dalam tulisan ilmiah
dihilangkan.
4.
Yang kira-kira perlu perujukan, tolong
diberikan rujukan.
Namun penataan format makalah saya
lihat cukup sesuai.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar