Kamis, 20 September 2018

Makkiyah dan Madaniya (PAI ICP English Semester Ganjil 2018/2019)



MAKKIYAH DAN MADANIYAH

Najmi Rahayu (17110039)
Rahmi Kartika Wangi(171100)
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Abstract
This article talks about the science of makky wal madany, which is the science that discusses about verses and letters revealed in the cities of Makkah and Madinah. The criteria for determining the makkiyah or madaniyah of a letter or verse have differences among the scholars. First, the difference between the personal characteristics of the verse or the intended letter. The ulama said for the editors Yes ayyuhan al-nas shows verse makkiyah, because it is intended for residents of the City of Makkah, while for the editors, ayyuha al-ladzina amanu shows the madaniyah verse because it is aimed at the people of the City of Medina. Secondly, differences based on where the verse or letter falls. The scholars argued, if the verse or letter was revealed to the Messenger of Allāh kah in Makkah, then the verse would include makkiyah, if the Messenger of Allāh accepted the verse or letter in Medina, then that verse would include madaniyah. The fall of the verse occurs either before or after the Messenger of Allāh rah moved. Third, differences in time. The Figure make moving a basis for distinguishing makkiyah and madaniyah. The verses of makkiyah are the verses that descended before the Messenger of Allāh rah moved to Medina, even though the verse or letter was not dropped in Makkah. Meanwhile, the madaniyah verses, the verse revealed after the Messenger of Allāh rah moved to Madinah, even though the revelation of the verse took place in Makkah. Of the three opinions above the strongest is the difference based on the Prophet's migration. Because, the verse or letter based on the decline and the intended subject is not relevant to what is contained in the Qur'an. There are several verses of makkiyah which are traced in the city of Medina, and vice versa, and there are several verses or letters in the editorial section Yes ayyuhan nas is in the verse or madaniyah, and vice versa. To make it easier to distinguish verses or letters of makkiyah and madaniyah, there are certain characteristics found in both, both those that are qhat'i (original) and aghlabi (general). Al-quran is the word of Allah SWT and the book is very holy and authentic. So, what is contained and explained in it is a truth.
Abstrak
Artikel ini berbicara mengenai ilmu makky wal madany, yaitu ilmu yang membahas tentang ayat-ayat dan surat-surat yang diturunkan di Kota Makkah dan Madinah.  Kriteria untuk menentukan makkiyah atau madaniyah suatu surat atau ayat terdapat perbedaan di kalangan para ulama’. Pertama, perbedaan karakteristik personal ayat atau surat yang dituju. Para ulama mengatakan untuk redaksi Ya ayyuhan al-nas menunjukkan ayat makkiyah, karena ditujukan untuk penduduk Kota Makkah, sedangkan untuk redaksi ya ayyuha al-ladzina amanu menunjukkan ayat madaniyah karena ditujukan kepada penduduk Kota Madinah. Kedua, perbedaan berdasarkan tempat turunnya ayat atau surat. Para ulama berpendapat, apabila ayat atau surat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW di Makkah, maka ayat tersebut termasuk makkiyah, apabila Rasulullah SAW menerima ayat atau surat di Madinah, maka ayat tersebut termasuk madaniyah. Turunnya ayat tersebut terjadi baik sebelum atau sesudah Rasulullah SAW hijrah. Ketiga, perbedaan dari segi waktu. Para ulama’ menjadikan hijrah sebagai dasar pembeda makkiyah dan madaniyah. Ayat-ayat makkiyah yakni ayat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke madinah, meskipun turunnya ayat atau surat tersebut bukan di Makkah. Sedang, ayat-ayat madaniyah yakni ayat yang diturunkan setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, walaupun turunnya ayat tersebut bertempat di Makkah. Dari tiga pendapat diatas yang paling kuat adalah perbedaan berdasarkan pada masa hijrah nabi.  Karena, ayat atau surat yang bedasarkan turunnya dan subjek yang dituju tidak relevan dengan apa yang terdapat dalam al-qur’an. Ada beberapa ayat makkiyah yang dirunkan di kota Madinah, begitupun sebaliknya, dan ada berbeapa ayat atau surat yang redaksinya Ya ayyuhan nas terdapat pada ayat atau surat madaniyah, begitupun sebaliknya. Untuk mempermudah dalam membedakan ayat atu surat makkiyah dan madaniyah, ada karakteristik tersendiri yang terdapat pada keduanya, baik yang bersifat qhat’i (asli) ataupun aghlabi (umum). Al-qur’an adalah kalam Allah SWT dan kitab yang sangat suci dan otentik. Jadi, yang  terdapat dan dijelaskan didalamnya adalah suatu kebenaran.
Keywords: Makkiyah, Madaniyah
A.       Pendahuluan
Al-quran merupakan kalam Allah yang memiliki tujuan sebagai pedoman hidup umat manusia dan menyempurnakan ketiga kitab yang sebelumnya sudah diturunkan kepada nabi-nabi sebelumnya yang diantaranya, kitab zabur diturunkan kepada nabi daud, kitab injil diturunkan kepada nabi isa, dan kitab taurat diturunkan kepada nabi musa. Kandungan yang terdapat dalam kitab-kita terdahulu, sudah termaktun dan dicakup oleh Al-qur’anul Karim. Al-qur’an diturunkan kepada Rasulullah SAW melalui malaikat jibril secara berangsur-angsur. Berdasarkan pengetahuan yang sudah umat muslim dapat sejak mendapatkan pelajaran di bangku sekolah, turunnya al-qur’an jatuh pada 17 ramadhan tahun pertama kenabian rasulullah saw, bertepatan dengan malam lailatur qadr, saat nabi berada di gua hira’. Turunnya al-qur’anul  karim diangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Begitu indahnya kemukjizatan alqur’an diturunkan. Surat al-alaq ayat 1-5 merupakan ayat yang petama kali diturunkan di Kota Makkah kepada rasullah saw, yang perintahnya untuk membaca.
Berdasarkan Turunnya al-qur’an inilah yang menjadi sebab adanya penggunaan istilah makkiyah dan madaniyah. Para ulama sepakat mengenai penggunaan istilah makkiyah untuk satu bagian Al-Qur’an dan Madaniyah untuk bagian lainnya.[1] Dalam membedakan antara ayat atau surah makkikyah dan madaniyah, para ulama’memiliki pendapat sendiri. Namun. Kaidah atau karakteristik dari ayat atau surat makkiyah itu sendiri sudah ada penjelasan dan diberi batasan oleh para ulama’, supaya tidak terjadi missunstanding di kalangan umat muslim, dalam memahami ilmu makkiyah dan madaniyah. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa dalam menentukan ayat atau surat makkiyah dan madaniyah, tidak akan bisa lepas dari sejarah rasulullah SAW, baik saat periode makkah atau periode madinah. Hal inilah yang akan menjadi tolak ukur dalam menentukan ayat atau surat makkiyah dan madaniyah. Sangat penting dalam mempelajari ilmu makkiyah dan madaniyyah ini. Karena, seorang alhli tafsir tidak dapat menafsirkan al-qur’an  jika belum mengetahui ayat atau surat tersebut termasuk makkiyah atau makkiyah, dan berhubungan juga dengan sejarah, krononologo serta sebabnya turunnya al qur’an. Maka dari itu, para ulama’ menganggap sangat penting dan menaruh perhatian terhadap ilmu makkiyah dan madaniyah. Karena untuk mengetahui letak dan waktu turunnya surat, serta sejarah dari surat tersebut para ulama harus mengetahui ilmunya.[2]Maka dari itu, pokok  pembahasan dalam artikel ini mengenai pengertian dan contoh-contoh ayat makkiyah dan madaniyah, kaidah-kaidah dalam mengetahui ayat-ayat-ayat makkiyah dan madaniyah, serta kegunaan mempelajari makkiyah dan madaniyah. Penulis akan berusaha untuk membahasa secara detail dan rinci serta mengungkap pendapat dari para ulama’ mengenai ilmu makkiyah dan madaniyah
B.     Pengertian Makiyah dan Madaniyah
Kata al-makki bersal dari “mekah” dan al madani bersal dari kata “Madinah”. Kedua kata tersebut telah dimasuki “ya” nisbah sehinnga menjadi al-makkiy atau al makkiyah dan almadaniyah. Secaraa harfiah almakkiy atau al makkiyah berarti “yang bersifat Mekah” atau “yang berasal dari Mekkah”, sedangkan al-madaniy atau al-madaniyah berarti “yang bersifat Madinah” atau “yang berasal dari Madinah”. Maka ayat atau surah yang dirunkan di Mekkah disebut al –makkiyah, danyang diturukan di madinah disebut dengan madaniyah.
Secara istilah, al makki wa al-madani berarti” suatu ilmu yang membahas tentang tempat dan periode turunnya Al-Quran, baik Mekah ataupun Madinah.[3] Alqur’an turun tidak dalam suatu ruang dan waktu yang hampa nilai, melinkan dimasyarakat yang sarat dengan berbagai nilai budaya dan religius. [4] Definisi lain mengatakan ilmu makky dan madanny. Ilmu makky wal madany adalah ilmu yang membahas tentang surat-surat dan ayat-ayat yang diturunkan di mekkah dan yang diturunkan di Madinah.
“Al-Qadhi Abu Bakar dalam kitab al-Intishar berkata: “untuk mengetahui yang makki dan madani harus didasarkan pada hafalan para sahabat dan tabi’in.” Dalam hal ini tidak ada sabda dari Nabi SAW (mengenai makki dan madani) sebab beliau tidak diperintahkan untuk itu. Dan, Allah tidak menjadikan pengetahuan mengenai hal itu sebagai kewajiban bagi umat (Islam). Kalaupun ahli ilmu dalam suatu hal diharuskan mengetahui nasikh dan mansukh, namun hal ini dapat diketahui tanpa adanya sabda dari nabi”. [5]
Berdasarkan apa yang sudah dipaparkan dalam abstrak, adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama dalam menentukan kriteria kapan ayat ini disebut makiyah ataupun madaniyah. [6] Pendapat pertama: Makiyyah ialah yang diturunkan di mekah,sekalipun turunnya sesudah hijrah; madaniyah ialah yang diturunkan di Madinah. Terjadi kelemahan dari definisi tersebut karena makiyah mencakup turunnya ayat di daerah mekah, termasuk mina, Arafat dan sebagainya. Sedangkan madaniyah mencakup wilayah Madinah termasuk badr dan uhud. Dan bagaimana dengan surat yang turun diluar dua daerah tersebut. Misalnya Surat At-Taubah ayat 43 yang turun di daerah tabuk, dan surat Al-Zukruf ayat 45 yang turun di Baitul maqdis pada malam isra’ mi’raj nabi Muhammad SAW. Pendapat kedua: ada yang menggolongkan sasaran ayat sebagai kriteria penentuan makiyah dan madaniyahnya. Makiyah ialah seruannya jatuh pada penduduk mekah, dan madaniyah ialah yang seruannya jatuh kepada penduduk Madinah. Pendapat ketiga: menetapkan masa turunnya ayat atau surat adalah merupakan penentuan dasar makiyah dan madaniyah. Makiyah adalah yang diturunkan sebelum nabi hijrah ke Madinah, sekalipun turunnya diluar mekah, sedang madaniyah adalah yang diturunkan sesudah nabi hijrah, meskipun turunnya di Makkah. Pendapat ini adalah yang paling mashur dikalangan ulama karena mengandung pembagian makiyah dan madaniyah secara tepat dan safe. Ayat al-qur’an yang menjadi bukti dari pendapat ini ialah QS.Al -Maidah ayat 4. Ayat tersebut adalah madaniyah walaupun diturunkan di arafah ketika rasulullah melaksanakan haji wada’ dihari jum’at. Adapun QS. An-Nisa ayat 58 adalah surat madiniyah walaupun diturunkan di kabbah ketika pembebasan kota mekkah.[7]
Dalam menganalisis surat makiyah dan madaniyah terdapat beberapa klarifikasi yang dapat dijadikan pedoman. Pertama, klasifikasi berdasarkan tempat turun ayat tersebut, jika turun di Makkah dan sekitarnya maka dinamakan makiyah. Dan juga sebaliknya ketika surat tersebut diturunkan di Madinah maka disebut madaniyah. Kedua, periodesasi waktu, seperti kita tau bahwa surat yang turun sebelum nabi hijrah dinamakan makiyah. Dan sesudah nabi hijrah dinakmakan madaniyah. Ketiga, kategori mukhatab atau yang bisa disebut pewahyuan. Surat tersebut dapat disebut makiyah ataupun madaniyah dengan dilihat sasaran dari turunya ayat. Jadi dengan banyaknya pendapat mengenai cara menganalisis makiyah dan madaniyahnya dapat digunakan ketiga cara sekaligus (waktu, tempat dan Mukhatab).
Para ulama sepakat mengenai penggunaan istilah Makkiyah untulsatu bagian Al-Quran dan Madaniyyah untuk bagian lainnya. Amr abu al aziz menilai bahwa permasalahan makkiyah dan madaniyyah penting , sehinnga orang yan g tidak emamshami persoalana yang berkaitan dengaan makkiyah dan madaniyyah ini tidak diperkenankan menafsirkan kitabullah. [8]
Tujuan adanya ilmu mengetahui makiyah dan madaniyah ialah untuk mengetahui periodesasi kajian, karena tidak semua ayat Al-Qur’an memiliki riwayat asbabul nuzul yang bisa dipertanggungjawabkan dan masih dipertanyakan validitasnya. Untuk itu diperlukan standardisasi lain untuk menentukan manakah ayat yang lebih dahulu turun. Serta dapat memahami tahapan dalam sejarah pensyariatan (Tarikh at-Tasyri’).[9]
C.             Kaidah-Kaidah untuk Mengetahui Surah Makkiyah dan Madaniyah

Menurut Al-Jabari untuk mengetahui makiyah dan madaniyah surat-surat al-qur’an ada du acara, yakni dengan cara sama’i (Jalan Riwayat) dan Qiyasi (Jalan Membandingkan yang satu dengan yang lain). Maksud dari sama’i adalah yang sampai berita turunnya kepada kita dengan slaah satu daripada dua jalan itu. Kemudian diberikan contoh-contoh dan bukti yang menunjukan bahwa dalam menentukan makiyyah dan madaniyahnya satu surat dipergunakan ijtihad (Qiyasi).[10]
Dalam mengkaji perbedaan surat Makkiyah dan Madaniyyah, mayoritas pengkaji berpedoman dan menyandarkan dirinya. Pertama, yang terdapat pada riwayat-riwayat dan nash-nash naqli yang mengisahkan dan menceritakan ayat atau surah, atau menunjukkan pada waktu dan tempat turunnya ayat tersebut, para pengkaji juga bersandar kepada peristiwa-peristiwa sejarah penting yang terjadi pada masa turunnya Al-Quran, atau kepada peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa turunnya al-quran.[11] Di dalam alqur’an memang banyak menjelaskan tentang peristiwa-peristiwa yang sangat penting dan bersejarah ketika turunnya ayat atau surah Al-Quran kepada Rasulullah SAW, contohnya seperti turunnya ayat-ayat Al-Quran pertama kali, yaitu surah al-alaq  ayat 1-5 bertepatan dengan malam lailatul qadr, yaitu malam yang penuh dengan keberkahan, peristiwa peperangan, seperti Perang Badr dan Khandaq. Berikut adalah contoh ayat al-qur’an yang diturunkan oleh Allah SWT pada saat peristiwa Perang Badar:
إذ تستغيثون ربّكم فاستجاب لكم أنّي ممدّكم بألف مّن الملئكة مردفين ْ
Artinya: “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”. (Q.S Al-Anfaal ayat 9)
Pemikiran dan cara penyandaran diri juga terdapat dalam buku karya Theodore Noldeke, dia adalah tokoh orientalis jerman. Di dalam bukunya ia membahas mengenai sejarah Al-Quran, hakikat wahyu, Nubuwwah, turunnya Al-Quran, kepribadian Nabi, dan sejarah turunnya surah-surah Makkiyah dan Madaniyyah, yang menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahun yang luas.[12] Namun, para kritisi yang mengkritik buku ini, karena mereka menganggap Noldeke tidak menjelaskan secara luas dan detail terhadap sejarah Al-Quran.
Selanjutnya, dalam mengkaji kaidah-kaidah untuk mengetahui ayat atau surah Makkiyah dan Madaniyyah Al-Quran, mereka  pada metode klasik (metode yang terdapat pada masa lampau namun, tidak kolot) sehingga mereka bisa mengetahui dan dapat mengidentifikasikan karakteristik-karakteristik dari surah-surah Makkiyah dan Madaniyyah. Melalui metode ini, mereka dapat membedakan banyak ayat-ayat atau surah-surah, sehingga para pengkaji dapat mengklasifikan ayat dan surah tersebut ke dalam Makkiyah dan Madaniyyah, kemudian mereka menyusun hasil dari klasifikasi tersebut ke dalam buku-buku tentang mushaf dan tafsir, sehingga dapat menjadi referensi untuk mengetahui dan membedakan ayat atau surah Makkiyah dan Madaniyyah dalam Al-Quran.
Berdasarkan paparan para pengkaji diatas mengenai kaidah-kaidah untuk mengetahui ayat dan surah Makkiyah dan Madaniyyah, maka terbentuklah dua metode mengetahui ayat-ayat makkiyah dan madaniyyah dalam al-quran, yaitu: pertama, metode deduksi, yaitu metode yang berdasar pda dali naqli, yang seringkali disebut juga dengan metode sima’iy dan kedua, metode induksi, yaitu metode yang berdasar pada dalil rasional.[13] Dalil naqli atau yang biasa disebut metode sima’iy, merupakan dalil yang bersumber dari Al-Quran, As-Sunnah, dan Ijma’, dalil ini yang menentukan atau yang menetapkan hukum dalam islam. Jadi secara mutlak memang benar adanya. Jadi metode deduksi ini berpedoman kepada nash-nash dan peristiwa-peristiwa yang dapat menunjjukan dan mengisahkan surah-surah dan ayat-ayat yang dapat diklasifikasikan ke dalam Makkiyah dan Madaniyyah. Sedangkan metode deduksi menggunakan cara dengan mengetahui karakteristik-kerakteristik melalui uslub(susunan bahasa)dan mawadhu’(tema). Dalam menentukan manakah metode yang paling sesuai dan tepat dalam mengetahui ayat dan surah Makkiyah dan Madaniyyah, yaitu dengan cara menggabungkan kedua metode tersebut. Penggabungan tersebut untuk mendapatkan metode yang objektif dan ilmiah dalam menganalisisnya, sehingga tidak akan lagi kesalahpahaman dan adanya dugaan sementara. Tujuan adanya kombinasi kedua metode tersebut, karena metode deduktif yang dipakai oleh pengkaji relatif lemah dalam menentukan dan mengklasifikasikan banyaknya ayat dan surat dalam Makkiyah dan Madaniyyah. Alasan lemahnya metode ini, karena tidak banyak peristiwa sejarah yang penting dalam surah dan ayat Makkiyah. Rata-rata peristiwa penting yang bertepatan dengan diturunkannya Al-quran terdapat dalam ayat dan surah Madaniyyah, karena kejadiannya setelah nabi hijrah dari Makkah ke Madinah. Sementara metode induksi merupakan sebuah metode analogi, yang dimana ciri atau karakteristik ayat dan surah Makkiyah dan madaniyyah memiliki kemungkinan yang kuat, namun metode analogi ini belum tentu kepastian dengan berjalannya waktu. Maka dari itu perlu adanya kombinasi antara metode deduksi dengan induksi untuk memperkuat dalam mengetahui ayat dan surah Makkiyah dan Madaniyyah.
Karakteristik yang ditentukan untuk mengklasifikasikan ayat atau surah Makkiyah dan Madaniyah tidak membutukan penjelasan yang detail, lengkap dan cermat yang meliputi dan mencakup seluruh isi Al-Quran, namun karakteristik ini ditetapkan melalui hasil dan fungsi tarjih. Tarjih meruapakan pencarian pendapat, yaitu manakah yang lebih kuat. Dengan adanya metode tarjih ini, bisa diperoleh probabilitas yang kuat diantara dua kemungkinan yang termaktub dalam ayat atau surah. Dalam menentukan karakteristik dalam makkiyah dan madaniiyah ini juga tidak membutukan dan tidak berkaitan dengan peristiwa sejarah yang berjaya dan masyhur.
Salah satu syarat menjadi ahli tafsir adalah dengan mengetahui karakteristik-karakteristik ayat dan surah makkiyah, kaidah-kaidah dalam mengetahui nya yaitu dengan menggunakn ilmu baik itu didasarkan pada dalil-dalil naqli ataupun dali aql. Oleh sebab itu, sesorang dilarang menentukan karakteristik dari makkiyah dan madaniyyah ini jika tidak memiliki pondasi dan landasan ilmu. Karena, acapkali ciri-ciri susunan dan gaya bahasa yang terdapat dalam ayat dan surah Makkiyah, juga dimiliki oleh ayat atau surah madaniiyah, dan sebaliknya. Meskipun ada kesamaan diantara keduanya, ada karakteristik yang khas dalam ayat atau surah Makkiyah dan Madaniyyah.seperti contohnya tentang hukum-hukum yang ditetapkan oleh syariah islam, seperti larangan berzina, minum khamar,ketetapan undang-undang negara, hukum waris, hukum perang dan hak politik dan sosial, dengan tidak ada diskriminasi sesama umat muslim.
Karakterstik Umum Surat Makkiyah:[14]
1.      Seruan terhadap prinsip-prinsip akidah, seperti iman kepada Allah dan ahari akhir, gambaran tentang hari pembalasan, penghuni surga dan neraka.
Di dalam Al-Quran banyak yang menerangkan tentang prinsip dan penanaman akidah. Pada saat Rasulullah belum melakukan hijarah dari makkah menuju madinah, kondisi masyarakat quraisy pada saat itu amatlah buruk sekali, yaitu menyembah berhala yang diletakkan disekitar ka’bah. Maka dari itu allah SWT menurunkan ayat-ayat yang mengandung prinsip akidah, yaitu dengan adanya perintah untuk beriman kepada Allah SWT serta balasan dan acaman jika tidak melakukannya.
Berikut ayat al quran yang mengandung ancaman bagi orang yang lalai dalam sholat:
فويل لّلمصلّين ْ الّذين هم عن صلاتهم ساهون ْ
Artinya: “ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (Yaitu) orang-oraag yang lalai dalam sholatnya”(QS. Al-Maa’uun : 4-5)
2.      Seruan untuk berpegang pada akhlak luhur dan perbuatan baik.
Ayat makkiyah ditandai dengan seruan untuk selalu menjadi khalifah yang baik di muka bumi, jangan sampai ada perpecaha belahan dikalangan umat muslim, menyeru kepada umat manusia supaya berteladan kepada Rasulullah SAW yang sebagai uswatun hasanah.
3.      Secara umum, surah-surah dan ayat-ayatnya adalah pendek-pendek.
Seperti contohnya, surat An-Nas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlash.
4.      Bantahan-bantahan terhadap kaum musyrikin, penegasan tentang batilnya akidah mereka, dan pembuktiannya terhadap kesempitan otak mereka.
Di dalam al-Qur’an terdapat kaum musyrikin yang tidak mau beriman kepada Allah Swt. Karena mereka adalah orang-orang jahiliyah yang tidak mau berpikir secara logis. Maka allah menurunkan Al-Qur’an untuk membantah dan menegaskan kepada kaum musyrikin.
5.      Banyaknya sumpah demi allah, demi akhir, demi hari kebangkitan demi alqur’an dan sebagainya.
Ayat-ayat makkiyah juga mengandung sumpah yang difirmankan oleh allah SWT, untuk menegaskan kepada umat manusia bahwasanya akan ada hari akhir dan hari kebangkitan dimana semua amal umat manusia dihitung dan dikumpulkan di padang mahsyar yang jarak matahrinya hanya sejengkal. Namun, bagi orang-orang yang beriman dan beramal sholih mereka akan selamat dan terbebas dari ancaman
6.      Banyak menggunakan ungkapan: ya ayyuha al-nas dan jarang menggunakan ungkapan ya ayyuha ladzin amanu
Dalam ayat dan surat makkiyah banyak redaksi yang menggunakan ya ayyuha al-nas, karena pada saat nabi belum melaksanakan hijrah dari makkah dan madinah sangat minim sekali orang arab pada saat itu yang beriman.
7.      Banyak kisah-kisah para Nabi dan umat, kisah Adam dan iblis.
Dalam ayat atau surah makkiyah juga banyak diceritakan tentang kisah para nabi beserta keadaan umatnya pada saat itu dan kisah pencitaan adam dan kesombongan iblis yag terdapat dalam QS. Al- Baqoroh.
8.      Ayat-ayatnya dimulai dengan kata kalla[15]
Karakteristik Umum Surat madaniyah[16]
1.      Mengandung banyak doktrin syariat praktis seperti kewajiban dan berbagai macam bentuk hokum pidana atau perdata serta diturunkannya doktrin tentang warisan.
2.      Menyinggung komunitas munafiq, kecuali Q.S Al- Ankabut: 29
3.      Menyinggung dialektika kalangan Yahudi dan Nasrani (Ahl al-Kitab)
4.      Ayatnya Panjang dan mengandung nalar-nalar presentatif
5.      Berisi tentang rumusan beberapa situs peribadatan, hubungan interaktif (Muamalat), serta beberapa permasalahan waris.
·               Dalam pendapat lain sesuai dengan dhobit qiyasi yang telah ditetapkan, maka ciri-ciri khas untuk surat makkiyah ada 2 macam, yaitu:
a.       Ciri-ciri khas yang bersifat qath’i (asli)
b.      Ciri-ciri khas yang bersifat aghlabi (umum)
·         Adapun 6 ciri khas yang bersifat qath’i bagi surat makkiyah, yaitu:
1.      Memiliki ayat sajdah. Berjumlah 16 ayat.[17]
2.      Terdapat lafadz kalla. Yang digunakan untuk memberi peringatan dengan jelas dan tegas kepada golongan yang keras kepala dan yang menentang islam.
3.      Setiap surat yang terdapat didalamnya lafadz “yaa ayyuhannasu” kecuali surat al-Hajj ayat 77
4.      Terdapat kisah para nabi dan umat manusia yang terdahulu. Kecuali surat al baqoroh
5.      Surat yang terdapat didalamnya kisah nabi adam dengan iblis. Kecuali al-baqoroh
6.      Surat yang dimulai dengan huruf tahajji (huruf abjad). Kecuali al-baqoroh dan ali imron
“alif laam miim raaaa” “alif laam raaaa”
·         Adapun ciri khas yang bersifat aghlabi bagi surat makiyah
1.      Ayat dan suratnya pendek (ijaz), nada perkataannya keras
2.      Mengandung seruan untuk beriman kepada Allah dan hari kiamat
3.      Mengajak manusia untuk berakhlak yang mulia dan berjalan dijalan yang benar
4.      Membantah orang musyrik dan menerangkan kesalahan keercayaan dan perbuatannya.
5.      Banyak lafal sumpah
·         Ciri-ciri khas bagi surat madaniyah
A.    Ciri-Ciri Yang Bersifat Qath’i
1.      Mengandung izin berjihad atau menyebut hal perang dan menjelaskan hukum-hukum.
2.      Memuat penjelasan secara rinci tenatnag hukum pidana, faraid, hak-hak perdata, peraturan yang berhubungan dengan perdata, kemasyarakatan.
3.      Menyinggung hal ikhwl orang-orang munafiq. Kecuali al-Ankabut
4.      Membantah kepercayaan keagamaan ahlul kitab.
B.     Ciri-ciri yang bersifat Aghlabi
1.      Sebagian surat dan ayatnya Panjang dan jelas dalam menerangkan hukum agama.
2.      Menerangkan secara rinci bukti-bukti dan dalil-dalil yang menunjukkan hakikat keagamaan.
D.    Kegunaan Ilmu Makiyah dan Madaniyah
1.      Dapat membedakan dan mengetahui ayat Mansukh dan nasikh.
2.       Yakni, apabila terdapat dua ayat atau lebih menganai suatu masalah, sedang hukum yang terkandung dalam ayat itu bertentangan. Jika telah mengetahui ayat makiyah atau ayat madaniyah pasti akan diketahui bahwa ayat madaniyah menasakh ayat yang makiyah.
3.      Dapat mengetahui sejarah hokum islam dan pekembangannya.
Ia dibebankan kepada umat secara berangsur-angsur. Terlihat, misalnya,nuansa bimbingan ayat atausurat makkiyah kepada umat manusia berbeda dengan ayat dan surah madaniyyah. Sebab, periode sebelum hijrah merupakan pertumbuhan, oleh karena itu hukum yang ditetapkan pada masa itu tidak terlalu memberatkan, namun ditetapkan secara berangsur-angsur, supaya doktrin umat muslim pada saat itu memikirkan bahwa islam adalah agama yang baik, lembut dan tidak memaksa. Sedangkan periode stelah hijrah meruapak tahap perkembangan, oleh karena itu umat manusia harus sudah siap menerima segalanyayang datang dan disayriatkan oleh allah melalui sumber-sumber yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Dengan ditetapkannya hukum islam secara bertahap, para sahabat pada kala itu tidak akan protes mengenai hukum-hukum yang harus dilakukan dan tidak akan menuai perpecahan, para sahabat tunduk dengan perintah Nabi. Dari sejarah ditetapakannya hukum tersebut, pada zaman sekarang para tokoh masyarakat haruslah menjadi contoh yang baik untuk membimbing daerah, nusa , bangsa dan agama.
4.      Dapat meyakini kebesaran Allah dalam menjaga, mensucikan, dan memberi perhatian yang besar terhadap Al-Qur’an hingga hal detail seperti makiyah dan madaniyah.
Ilmu makkiyah dan madaniyah tidak hanya sekedar mengajarkan kita tentang kaidan dan karakteristik dalam mengetahui makkiyah dan madaniyah. Dengan kita belajar tentang makkiyah dan madaniyyah kita akan lebih meyakini tentang kebedaran Allah yang telah menurunkan al quran sebagai mukjizat kepada Rasulullah SAW, dan kita meyakini bahwa allha akan menjaga al-qur’an hingga hari akhir  nanti, kemurniannya tidak akan berkurang sedikitpun. Kita juga akan semakin cinta dengan al-quran jika kita mengkaji dan mempelajari ilmu makki wal madani, dan memberikan perhatian yang besar terhadap alquran. Kita akan selalu membacanya setiap hari dan mengkaji maknannya.
5.      Mengetahui fase dari dakwah Islamiyah yang ditempuh Al-Qur’an
Kita juga dapat mengetahui fase-fase dalam dakwah islam yang ditempuh oleh al-qur’an
6.      Mengetahui keadan lingkungan dan situasi serta kondisi masyarakat saat turunnya  Al-Qur’an, khususnya masyarakat mekkah dan Madinah.
Dengan kita mempelajari dan mengkaji ilmu makki wal madani kita akan tau perubahan sosial apakah yang terjadi ketika sebelumdan sesudah al-quran diturunkan di makkah dan madinah. Pada periode mekkah, sempat terjadi perdebatan tentang pembuat alquran, ada yang mengatakan alquran adalah karangan dari nabi. Maka turunlah ayat untuk memebuat semisal alquran, namun tdak ada yang mampu untuk membuanya
7.      Mengetahui ushlub atau gaya Bahasa yang berbeda-beda.
Mengetahui gaya bahasa dan dapat membedakan maana gaya bahasa yang dipaik untuk ayat atau surah makkah atau madaniyyah. [18]
E.     Penutup
Berdasarkan paparan diatas bahwasanya dalam menentukan dan mengklasifikasikan ayat atau surah makkiyah dan madaniyah haruslah memiliki ilmu pengetahuan yang luas , tidak hanya terbatas pada nalar akar saja, namun disertakan dengan dalil dalil yang bersifat naqli yang usdah dalam al-qur’an dan hadist. Banyak sekali peredaan dari definisi makkiyah dan madaniyah, namundefini yang paling diterima oleh para ulama’ adalah surah atau ayat makkiyah dan madaniyah ditentukan dengan masa hijrah ya Rasulullah SAW. Dalam menentukan makkiyah dan madaniyah juga dasarkan pada metode deduksi dan induksi. Kegunaan makkiyah dan madaniyah akan membentuk jiwa umat muslim untuk semakin cinta dengan Al-Qur’an.
F.     Daftar Pustaka
Al-Athar, Dawud. Persepektif Baru: Ilmu Al-Qur’an. Bandung: Pustaka Hidayah1994
Abu Zaid, Nasr Hamid. Tekstualitas Al-Quran: Kritik Terhadap Ulumul Quran. Yogyakarta: LkiS.2003.
Ahmad, Shams MadyanPeta Pembelajara Al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2008.
Anwar, Rosihon. Ulum Al-Qur’an. Bandung: CV Pustaka Setia. 2008.
Az-Zanjani, Abu Abdullah. Tarikh Al-Quran. Bandung: Mizan. 1986.
Bariroh, Wildatun dan Sayyidah Laila Rakhma Sulaiman. Makiiyah dan Madaniyah. Dalam buku Studi Al- Qur’an dan hadist. Malang: D’Family
Hermawan, Acep. Ulumul Qur’an. Bandung:Rosdakaya. 2012
Masjfuk, Zuhdi Pengantar Ulumul Qu’an. Surabaya: Karya Aditama. 1997.
Muhammad Hasbi As-shddieqy. Sejarah Dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsr . Semarang : pustaka rizki putra. 2000
Yusuf, Kadar M. Studi Al-Quran. Jakarta: Amzah. 2012.


Catatan:
1.      Similarity lumayan bagus, 19%.
2.      Tolong penulisan footnote diseragamkan.
3.      Penulisan makalah harus mengikuti KBBI, misalnya kata Alquran bukan al-Qur’an.
4.      Buku terjemahan harus dicantumkan perterjemahnya.
5.      Jangan mengutip footnote yang ada dalam buku, jika tidak merujuk pada buku yang ada dalam footnote tersebut.
6.      Setiap keterangan yang berasal dari buku/artikel jurnal harus dirujukkan ke referensi tersebut.
7.      Tolong pembahasannya dibuat runtut.





[1] Dawud Al-Athar, Persepektif Baru: Ilmu Al-Qur’an, Pustaka Hidayah, Bandung, 1994, hlm. 141
[2] Wildatun Bariroh dan Sayyidah Laila Rakhma Sulaiman, Makiiyah dan Madaniyah,dalam buku Studi Al- Qur’an dan hadist, Dfamily Malang,hlm. 18
[3] Kadar M. Yusuf, Studi Al-Quran (Jakarta:Amzah, 2012), hlm. 28.

[5] Nasr Hamid Abu Zaid, Tekstualitas Al-Quran: Kritik Terhadap Ulumul Quran (LKiS: Yogyakarta, 2003), hlm. 91.

[7] Zuhdi Masjfuk, Pengantar Ulumul Qu’an, (Karya Aditama: Surabaya Cetakan V 1997), hlm.64
[8] Bagian ini disarikan dari buku acep hermawan, ulumul qur’an(bandung:Rosdakaya, 2012, 51-62 dan Muhammad Hasbi As-shddieqy, sejarah dan pengantar ilmu al-qur’an dan tafsr (semarang , pustaka rizki putra, 2000),hlm. 52-57
[9] Shams Madyan, Ahmad, Peta Pembelajara Al-Qur’an, (Pustaka Pelajar: Yogyakarta 2008), hlm. 50
[10] Ibid
[11] Dawud Al-‘Aththar, Perspektif Baru: Ilmu Al-Quran, hlm. 141.
[12][12] Noldeke mengutip susunan surah-surah dari kitab Abil Qasim Umar bin Muhammad bin Abdul-Kafi, yaitu salah seorang tokoh pada abad ke-V H, ia membagi surah-surah tersebut kedalaam dua bagian, yaitu Makkiyah dan Madaniyyah. Ilmu yang luas tersebut maksudnya, dia merasa bahwa ia telah berhasil dalam menjelaskan sejarah islam secara luas dan detail, walaupun banyak yang mengkritik karyanya. Lihat Abu Abdullah Az-Zanjani, Tarikh Al-Quran (Bandung: Mizan, 1986), hlm. 124-125
[13] Dawud Al-Aththar, Perspektif Baru: Ilmu Al-Quran, hlm. 142
[14] Ibid.,hlm. 148
[15] Rosihon Anwar, Ulum Al-Qur’an (Bandung: CV Pustaka setia, 2008), hlm. 106
[16] Kadar M. Yusuf, Studi Al-Quran (Jakarta:Amzah, 2012), hlm. 28.

[17] Al-Iqtan juz I, halaman 29
[18] Zuhdi Masjfuk, Pengantar Ulumul Qu’an, hlm.64